Santri Akhwat Nobar Duka Sedalam Cinta

Ecoplaza, Tangerang – Dalam rangka merayakan Hari Sumpah Pemuda, Santri SIT Ruhul Jadid mengikuti kegiatan nonton bareng film Duka Sedalam Cinta yang diadakan oleh Yayasan Semut. Dalam acara tersebut, hadir Masaji Wijayanto pemeran Yudhi dalam film Duka Sedalam Cinta sebagai bintang tamu.

Film ini adalah sekuel dari film sebelumnya, Ketika Mas Gagah Pergi. Film Duka Sedalam Cinta ini menceritakan tentang perjalanan Gagah (Hamas Syahid) ke Maluku Utara untuk melakukan penelitian. Namun, saat sedang berjalan-jalan Gagah mengalami kecelakaan. Ia ditolong oleh  Kyai Ghufron (Salim A. Fillah) dan tinggal di pesantren milik kyai tersebut. Selama berada di sana Gagah belajar banyak tentang Islam.

Sekembalinya dari Maluku Utara, perubahan Gagah membuat Mama (Wulan Guritno) heran, sedang adiknya yang tomboy, Gita (Aquino Umar), salah paham. Gita marah dan tidak bisa menerima perubahan Gagah.  Suatu ketika Gita bertemu Yudi (Masaji Wijayanto), pemuda tampan misterius yang membuatnya simpati.  Gita juga berkenalan dengan Nadia (Izzah Ajrina) yang baru kembali dari Amerika, dan Ibu Nadia (Asma Nadia).

Gagah berusaha untuk terus  berbaikan dengan Gita. Mencari cara agar adiknya ini mau menerima apa yang telah ia pilih. Gagah yang menjadi relawan Rumah Cinta untuk pendidikan anak dhuafa di pinggiran Jakarta, bersama 3 preman insyaf (Epi Kusnandar, Abdur, M. Bagya) menyiapkan sebuah rencana yang bisa mengubah segalanya. Namun sesuatu terjadi, membuat Gagah, Gita, Yudi dan Nadia bertemu dalam jalinan takdir yang membawa mereka pada duka sedalam cinta, dan sebuah pertemuan tak terduga di Halmahera Selatan.

Ending yang tidak terduga membuat beberapa penonton menitikan air mata. Film yang menceritakan kegigihan dan keteguhan dalam mencari hidayah ini menggugah banyak penonton. Sinematografi yang sangat indah juga menjadi hal yang banyak di perbincangkan penonton setelah film selesai.

Dari film ini, kita dapat mengambil banyak sekali hikmah. Bukan hanya dari cerita film tersebut, tapi juga dari perjalanan pembuatan film tersebut sampai muncul di layar bioskop. Begitu banyak film dakwah yang bermunculan, namun sedikit sekali yang mendapat apresiasi baik dari dunia perfilman.

Sebagai pemuda, yang pasti akan melanjutkan peradaban, kita harus mampu bersaing dalam kehidupan milenial ini. Dari Bunda Helvy, kita dapat belajar, bahwa menebar kebaikan juga perlu mendapatkan upgrade, bagaimana kita mencari cara kreatif agar dakwah semakin mudah di terima oleh banyak kalangan.

Jadi apa ide kreatifmu untuk berdakwah?

Tags

Leave a comment