Jihad Tanpa Darah

Seorang gadis berlesung pipit sedang duduk disofa depan rumahnya, menikmati lagu yang sedang ia dengarkan dari ponselnya. Tiba-tiba teriakan uminya mengusik kesenangannya. ’’Syamsa! Bantu umi nak!’’.

Gadis itu tidak meggubris panggilan uminya. Kepalanya terayun kenan dan kekiri menikmati alunan musik dari ponselnya. Sudah tiga kali uminya itu memanggil, tapi tak ada sedikitpun jawaban. Karena kesal, uminya mencoba menghampiri Syamsa.

“Subahanallah Syamsa, umi panggil dari tadi.” Tangan wanita itu mencabut earphone yang digunakan Syamsa.

“Ih umi! Apaan sih? Kok langsung dilepas gitu!” Syamsa menunjukkan wajah kesal karena kegiatannya diganggu.

“Astaghfirullah. Emang umi ngajarin kamu kayak gini? Umi daritadi manggil kamu.” Namun tanpa merasa bersalah, Syamsa meninggalkan uminya. Sementara uminya hanya bisa mengelus dada melihat tingkah putrinya.

Syamsa memilih untuk berdiam diri di kamarnya. Membuka laptop kesayangannya, mulai memilih beberapa drama Korea yang akan ia tonton.

“Coco, kenapa sih umi sekarang suka marah marah? Padahal aku cuma main hp!” tanyanya pada boneka panda coklat kesayangannya.

Sebenarnya, Syamsa adalah sosok anak yang cerdas dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Dengan kecerdasannya, ia mampu memasuki sekolah favorit di daerah ibu kota. Namun, semenjak ayahnya membelikannya hendphone, Syamsa berubah. Ia jadi jarang belajar, dan mulai bergaul dengan teman-teman yang lebih suka bermain-main. Akibatnya, pada semester kemarin, nilainya turun. Biasanya ia akan menduduki ranking 1, kini bahkan rangking 5 pun tidak.

Ayah dan uminya sangat khawatir melihat perubahan anaknyan ini. Maksud ayahnya membelikan handphone untuk memudahkan komunikasi Syamsa dengan keluarga dan temannya ternyata tidak dimengerti dengan baik oleh Syamsa.

“Assalamu’alaikum.” Suara ayahnya yang baru pulang bekerja membuat Syamsa bergegas keluar dari kamarnya.

“Wa’alaikumsalam Ayah!” dengan wajah bahagia, Syamsa mencium tangan ayahnya, kemudian memeluknya. Ayahnya hanya tersenyum, membalas pelukan putri tunggalnya itu, serta mencium puncak kepalanya.

“Gimana sekolahnya Sya?” tanya ayah saat sudah duduk di sofa sambil melurskan kakinya.

“Lancar yah. Meski semakin banyak jadwal bimbel sekarang hehe.” Ayahnya hanya membalas dengan anggukan.

Semenjak memasuki tungkat akhir di sekolahnya, Syamsa selalu mengatakan pada orang tuanya jika ia hanya ingin melanjutkan sekolahnya ke SMAN 1 Jakarta. Sekolah yang banyak diminati teman-teman sekolahnya. Sekolah favorit dan ternama itu memang memiliki murid yang luar biasa keren dan cerdas menurut Syamsa. Makanya, dia ingin sekali masuk ke sekolah itu.

“Ayah, bulan depan SMA 1 udah buka pendaftaran loh yah.” Ujar Syamsa dengan nada manja.

“Kamu tuh Sya, kalo mau masuk sana perbaikin dulu nilai kamu. Jangan main hp terus. Nonton drama Korea terus. Gimana mau masuk sekolah favorit kalo nilai kamu turun terus?” uminya yang sedari tadi menyimak percakapan mulai angkat bicara.

“Ih umi apa sih? Syamsa kan belajar setiap hari, emang salah kalo Syamsa refreshing sebentar? Lagi juga Syamsa jarang-jarang nontonnya.” Lagi-lagi Syamsa menjawab uminya dengan kesal.

“Syamsa kok jawabnya begitu ke umi?”

“Lagian umi tuh marah-marah terus sama Syamsa, yah. Kan Syamsa main hp nya juga jarang.” Rajuk Syamsa pada ayahnya.

“Umi marah karna sayang sama Syamsa. Umi mau Syamsa jadi anak yang baik.”

“Kalo sayang tuh engga ada yang marah-marah ayah.” Dengan wajah kesal, Syamsa meninggalkan ayah dan ibunya.

Uminya hanya bisa geleng kepala melihat tingkah laku putrinya itu. Tidak tau harus bersikap apa untuk menghadapi Syamsa. “Tuh liat anak ayah. Kalo umi bilangin pasti jawabnya marah-marah begitu.”

“Loh kok anak ayah aja? Anak umi juga dong hehe.”

“Ayah tuh ya, malah bercanda. Umi serius tau.”

“Iya ayah ngerti, mi. Hmm gimana kalo kita masukin Syamsa ke pesantren aja mi? Kan sekarang banyak tuh mi pesantren yang udah modern. Dan sistem pendidikannya juga udah bagus.” Tanya ayah serius.

“Boleh juga tuh, yah. Anak-anak temen umi juga banyak tuh yang masukin anaknya ke pesantren.”

“Oke kalo gitu. Nanti ayah coba cari dulu ya pesantren yang bagus dan berkualitas.”

“Oke yah. Bismillah ya.” Kedua orang tua itu pun tersenyum dengan rencana mulia mereka. Semoga dengan langkah ini, Syamsa bisa menjadi penyejuk bagi keduanya.

ᴥᴥᴥ

Jam menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit ketika Syamsa berusaha untuk berlari sekencang mungkin. Pagi ini, ia bangun terlambat. Semalaman Syamsa memutuskan untuk menonton film kesukaannya karena kesal dengan orang tuanya yang terus menerus memarahinya. Akhirnya ia telat bangun dan terburu-buru ke sekolah.

“Ya Allah Sya, biasa aja dong!” sungut Resa yang kesal karena ditabrak oleh Syamsa.

“Sorry, sorry! Gue capek banget nih. Lari dari ujung gang sampe sekolah. Dikira bakal ditutup gerbangnya.” Ujar Syamsa dengan nafas yang setengah-setengah.

“Tumben banget sih telat, biasanya paling semangat ke sekolah. Biar bisa update drama baru hahahaha”

“Apaan sih Res? Gue ke sekolah semangat biar bisa masuk SMAN 1 tau.” Ujar Syamsa kesal.

“Hahaha iye neng, paham. Udah yuk ah masuk. Bentar lagi pelajaran Pak Dayat mulai.” Resa dengan segera menarik tangan Syamsa masuk ke kelas.

Bagi Syamsa, belajar matematika itu mudah. Tapi entah mengapa, sudah 30 menit berlalu ia malah semakin tidak fokus dengan apa yang disampaikan oleh Pak Dayat. Karena merasa bosan dan pusing, Syamsa mengeluarkan ponselnya dari tas. Tangannya mulai berselancar di beranda instagramnya. Beberapa kali ia tertawa saat melihat sesuatu yang lucu.

Saat sedang asyiknya menjelajah dunia maya, suara kemarahan Pak Dayat membuat Syamsa tegang.

“Syamsa!!” dengan kedua tangan di pinggang, Pak Dayat semakin terlihat garang.

“I..i..iya pak! Ada apa?” jawabnya gugup. Matanya melirik kearah Resa seakan berkata ‘kenapa engga kasih tau gue sih?’, sementara Resa hanya angkat bahu sambil memberikan cengirannya.

“Masih tanya ada apa?” Pak Dayat mendekati tempat duduk Syamsa. “Mana handphone kamu?” dengan gugup Syamsa memberikan ponselnya ke Pak Dayat.

“Kamu boleh ambil ini di ruangan bapak. Besok, sepulang sekolah”

“Beneran pak?” wajah Syamsa sedikit sumringah, dia merasa agak lega karena tidak perlu berurusan dengan orangtuanya.

“Iya betul. Tapi, harus ditemani orang tua kamu.”

“Hah?” baru saja bernafas lega, Syamsa merasa lemas lagi. Bagaimana dia akan mengatakannya pada ayah dan umi?

To be continued….

Karya : Hauralya Salsabilla, Kelas 8 Takhosuss HatiQu

Tags

Leave a comment